Rabu, 03 November 2010

SINDROM KELELAHAN SEORANG DOKTER


Hampir terlalu sulit hanya untuk menyatakannya sekalipun, karena sebetulnya rasa ini adalah yang paling kutakutkan. Namun ini memang kerap terjadi tidak hanya kepadaku sebagai seorang pelayan masyarakat, namun mungkin dapat dipastikan terhadap siapapun yang telah mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk melayani siapapun tanpa mengenal waktu. Jadwal praktek yang begitu padat dibeberapa tempat jelas adalah sebuah tantangan profesi seorang dokter ditambah lagi dengan rutinitas lain yang cukup membutuhkan perhatian. Belum lagi panggilan-panggilan tak terduga dari kerabat ataupun tetangga sekitar rumah saat kita beristirahat yang memang membutuhkan perhatian dan gak mungkin kita tolak.
Rutinitas yang begitu padat jelas memakan banyak waktu termasuk waktu-waktu dimana seharusnya tubuh diberikan jeda untuk beristirahat akan memaksa menghasilkan suatu perasaan yang gak mungkin terelakkan, "lelah". Karena walau bagaimanapun, setiap tubuh sebetulnya memiliki hak preogratifnya untuk mengatakan bahwa "saya lelah, dan butuh istirahat... SEKARANG!!!". Namun terkadang kungkungan rutinitas dan loyalitas terhadap suatu profesi jelas akan merampas hak yang satu ini. Kita terlanjur meng"iya"kan setiap tawaran pekerjaan karena terlalu takut kehilangan peluang sekecil apapun. Dan tentu saja kompensasi dari semua ini adalah kita terlalu sulit untuk memberikan waktu untuk diri sendiri menunaikan haknya menghapus kelelahan dan kejenuhan dengan beristirahat.
Rasa lelah fisik ini justru adalah awal terjadinya kelelahan secara psikologis ataupun kelelahan jiwa. Karena jiwa merupakan cermin kondisi fisik seseorang. Fisik yang lemah akan merangsang kelemahan seseorang secara psikis, walaupun hipotesa ini tidak selalu benar, artinya selalu ada kemungkinan perkecualian. Namun paling tidak, ketika fisik seorang manusia merasa lelah, terlebih sakit, maka jiwa pun akan merasakan impact dari kondisi ini.

Yang paling kutakutkan adalah sebuah sindrom yang kusebut sindrom kelelahan seorang dokter. Sindrom jelas merupakan sekumpulan gejala, dalam hal ini adalah semua gejala yang ditimbulkan karena seorang menderita kelelahan. Orang yang lelah akan merasa tidak bergairah, malas melakukan tindakan apapun, dan tidak peduli. Ketidak-peduli-an adalah yang terparah. Seorang dokter hampir kehilangan ruhnya sebagai dokter jika sudah tidak lagi peduli terhadap sesama, terlebih pasien yang memang mengharapkan bantuan. Sindrom ini akan membuat seorang dokter harus menggunakan topeng kepalsuannya, berpura-pura peduli dengan mencoba bersikap manis terhadap pasien-pasiennya, dan seolah terlihat sabar mendengarkan setiap keluhan mereka padahal sang dokter hanya berpura-pura peduli.
Semoga kita semua terhindar dari penyakit ini. Dan satu-satunya cara adalah dengan meluangkan cukup waktu untuk beristirahat. Akuilah bahwa kita tidak dapat memenuhi setiap harapan oranglain kepada kita. Akuilah bahwa terlalu banyak keterbatasan yang kita miliki. Sehingga kita memang harus selalu jadi diri sendiri, yang terpenting adalah melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan.


Semoga berkenan
3 November 2010
RSIA Kurnia Cilegon, Indonesia






[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 29 Juni 2010

Eksklusifitas Pelayanan

Beberapa minggu yang lalu penulis betul-betul disibukkan dengan sebuah agenda yang cukup menyita waktu, tenaga, dan juga pikiran dalam rangka event pemeriksaan bakal calon walikota dan wakil walikota dikota dimana penulis berdomisili. Bukan hasil pemeriksaan yang ingin kubagi ceritakan disini, dan bukan pula tingkah polah masing-masing calon yang berupa-rupa yang ingin kuceritakan karena walau bagaimanapun semua itu bukan 'wilayahku'. Namun lebih pada bagaimana kita menyikapi tentang pelayanan terhadap strata sosial yang memang cukup diistimewakan ini.
Satu kehormatan disatu sisi buat kami karena RS tempatku bekerja menjadi pilihan untuk dilaksanakannya acara pemeriksaan kesehatan calon orang nomor satu dikota ini, hal ini karena memang standar juklak dari KPU memang menunjuk rumah sakit daerah menjadi tuan rumah untuk dilaksanakannya pemeriksaan kesehatan calon walikota dan wakil walikota.
Jauh hari sebelum pelaksanaan, semua elemen terkait sudah cukup ketar-ketir mempersiapkan acara pemeriksaan kesehatan jasmani dan rohani calon walikota dan wakil walikota. Rapat koordinasi pun serta merta dilakukan demi keoptimalan penyelenggaraan dengan sedetail mungkin memperhatikan segala sesuatu yang kiranya memang diperlukan. Mulai dari sarana dan prasarana, kelengkapan gedung, keamanan, hingga tenaga medis yang bersinggunganpun disiapkan.
Ada baiknya memang, dalam tempo yang singkat rumah sakit disulap untuk terlihat betul-betul rapih, bersih dan tampak lebih baik dari waktu sebelumnya.
Namun, disisi lain pelayanan medik yang selayaknya beroperasi, hari itu diliburkan demi alasan kenyamanan dan keamanan calon orang nomer satu dikota ini. Ironis memang, karena pejabat-pejabat negeri ini yang seharusnya lebih dekat dengan masyarakat namun telah terbiasa mendapat perlakuan istimewa yang memungkinkan mereka untuk sedikit mungkin kontak langsung dengan masyarakat.
Ternyata, eksklusifitas pelayanan rumah sakit tidak hanya dirasakan orang-orang istimewa yang baru saja kusebutkan. Masyarakat tingkat ekonomi menengah kebawah juga terpaksa harus merasakan yang namanya eksklusifitas dibidang pelayanan kesehatan lantaran terbatasnya sarana pelayanan.
Tidak sedikit dari mereka yang menelan pil pahit karena kesulitan untuk dapat menikmati pelayanan kesehatan rumah sakit dikarenakan terbatasnya ruang perawatan kelas tiga. Sehingga tidak jarang pasien-pasien yang sebetulnya membutuhkan pelayanan rawat inap, harus menunggu lama untuk dapat merasakan perawatan yang diharapkan.
Sedih memang melihat kondisi yang memprihatinkan seperti ini, disatu sisi eksklusifitas dengan mudahnya dapat dirasakan oleh saudara-saudara kita yang memiliki kelebihan materi, tapi justru saudara kita yang lebih membutuhkan juga merasakan kesulitan-kesulitan yang sebetulnya tidak perlu terjadi.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan pihak manapun, namun hanya media berbagi kepada sahabat semua diluar sana bahwa inilah salah satu potret unik negeri yang kita cintai ini. Semoga suatu saat ketika diberi amanah kewenangan untuk dapat melakukan lebih dari yang bisa kita lakukan sekarang, kita sedikit banyak punya ruang untuk 'berbuat', tidak sekedar berbagi rasa saja.

Semoga Berkenan,
Salam,
Eko Indra P


29 Juni 2010
Cilegon - Indonesia

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 29 Desember 2009

Sindrom Cushing


Pertama denger namanya, awalnya pasti bikin kita ragu apa bakal bisa ditemui penyakit seperti ini di Indonesia, mungkin karena namanya yang tampak hanya bakal ditemui di negeri antah berantah sana. Namun, dengan kultur dan sugesti sosial yang memang cukup kental di indonesia ditambah begitu kreatifnya manusia-manusia Indonesia penyakit ini cukup mudah ditemukan.
Sugesti sosial yang saya maksud adalah bahwa kebanyakan penduduk negeri ini meyakini bahwa jamu-jamuan ramuan tradisional bangsa kita gak ada duanya. Haha (termasuk penulis cukup meyakini hal ini). Tapi itu dulu, ketika semua bahan baku pembuatan jamu betul-betul diambil murni dari alam dan diolah alami tanpa penamnbahan zat kimia buatan apapun. Bahan-bahan dimaksud dapat berupa beras kencur, kunyit asam, air sirih, jahe, gula jawa, sambiloto, jeruk nipis, air daun pepaya, cabe puyang, dan sebagainya.
Namun, ironisnya kepintaran saudara-saudara kita telah merusak citra luhur jamu-jamuan di Indonesia. Bahan-bahan alami diganti dengan bahan-bahan kimia termasuk obat untuk pencapaian tujuan secara instant. Beberapa produk terbukti menggunakan analgetik kuat, dexamethasone, furosemide dan obat-obat keras lain yang tentu dapat menimbulkan efek negetif jika digunakan tidak sesuai indikasi dan dosis yang tepat.
Hasilnya, awalnya konsumen dibuat bangga dengan begitu cepatnya mereka meraih sesuatu berhubungan dengan kekurangan kondisi tubuh mereka. Rasa pegal-pegal yang hilang, berat badan menurun drastis, nafsu makan bertambah adalah beberapa dari sekian banyak harapan konsumen terhadap produk jamu. Namun ternyata dalam jangka panjang, berkat sentuhan oknum-oknum yang gak beres, konsumsi terus-menerus jamu-jamuan palsu ini berkembang bak sebuah bom waktu, karena ternyata komplikasi yang terjadi justru berbahaya.
Ada satu penyakit yang kali ini aku ingin bahas berhubungan dengan komplikasi pemakaian jamu palsu. Hal ini mengingat beberapa waktu lalu penulis menemukan seorang pasien dengan penyakit dimaksud di Rumah Sakit. Beliau adalah penggemar setia jamu penambah berat badan, sebut saja Ny.Dexa (berhubungan dengan zat aktif yang kemungkinan besar terkandung dalam jamu yang dikonsumsi, Dexamethasone -red-). Ny. Dexa memang rutin mengkonsumsi jamu penambah berat badan (inget penambah berat badan, bukan penambah nasfu yang lain ya..). Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mendiskreditkan produk jamu kita, namun lebih mengingatkan kita semua untuk lebih berhati-hati dalam memilih dan mengkonsumsi jamu.
Sebelumnya mari perkenalkan nama sang penyakit adalah Sindrom cushing.
Baca Lengkap

Penyakit ini disebut juga dengan Hiperadrenokortikal. Nama penyakit ini diambil dari Harvey Harvey Cushing, seorang ahli bedah yang pertama kali mengidentifikasikan penyakit ini pada tahun 1912. Insiden penyakit ini cukup tinggi angka kejadiannya di masyarakat. Dalam penelitian secara global didapat hasil sedikitnya 1 dari tiap 5 orang populasi dunia berkemungkinan terkena kelainan ini tanpa membedakan jenis kelamin. Namun sumber lain mengatakan :
Rasio kejadian antara wanita dan pria untuk sindrom cushing adalah sekitar 5:1 berhubungan dengan tumor adrenal or pituitary.
Produksi ACTH lebih banyak pada pria dibandingkan dengan wanita karena peningkatan insidensitumor paru pada populasi ini.


Definisi
Gangguan yang timbul karena tingginya kadar kortisol di dalam darah oleh karena berbagai sebab.

Etiologi
Penyebab tersering adalah hiperplasi adrenal bilateral yang berakibat hipersekresi dari ACTH oleh pituitary atau dari sebab seperti small cell carcinoma paru, medullary carcinoma thyroid atau tumor timus, pancreas atau ovarium.

Patofisiologi
Hipotalamus menghasilkan CRH (Corticotrophin Releasing Hormone) yang merangsang kelenjar pituitary memproduksi ACTH. ACTH masuk ke dalam darah menuju ke kelenjar adrenal dan menstimuli adrenal menghasilkan kortisol. Kortisol disekresi oleh korteks adrenal dari area yang disebut zona fasciculate. Normalnya kadar kortisol dalam jumlah tertentu akan memberi negative feedback kepada kelenjar pituitary sehingga mengurangi sekresi ACTH. Pada sindrom Cushing terjadi kegagalan pengaturan kadar kortisol dalam darah oleh karena berbagai sebab. Misalnya sindrom Cushing yang disebabkan oleh adenoma pada korteks adrenal. Adenoma ini menyebabkan sekresi kortisol menjadi tinggi dan terus menerus sehingga negative feedback yang diberikan kepada kelenjar pituitary menjadi terlalu banyak sehingga kadar ACTH menjadi sangat rendah.

Gejala klinis
Beberapa manifestasi klinis yang sering muncul berupa obesitas, hipertensi, osteoporosis, gangguan psikologis, jerawat, amenorrhea, dan diabetes mellitus meskipun relative tidak spesifik. Manifestasi klinis diatas dapat disertai dengan gejala sakit punggung, perdarahan bawah kulit, striae, hirsutisme sering juga perubahan mental sampai psikosis. Pasien-pasien dengan penyakit ini juga kelihatan kemerahan pada wajahnya, disertai kegemukan sedang sampai berat, wajah bulat dan merah (moon face). Kondisi otot jelek dan distribusi lemak bawah kulit abnormal, di punggung relative lebih tebal dan di tungkai lebih tipis. Bantalan lemak ini paling jelas di punggung atas dan di atas klavikula (buffalo hump). Kulit menipis, mudah berdarah dan striae merah muda. Striae cenderung terletak menyilang garis kulit, tampak pada sisi abdomen, payudara, bokong, pinggul, paha dan lipatan ketiak. Dapat dijumpai juga pertumbuhan berlebihan bulu rambut tubuh dan wajah. Bisa terjadi sedikit pembesaran klitoris. Tekanan darah meninggi dan adanya komplikasi hipertensi.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk skrining adalah pengukuran kadar kortisol plasma. Lalu dilanjutkan dengan tes supresi deksametason untuk menilai respon kortisol, baru dilanjutkan dengan mengukur kadar ACTH plasma. Pemeriksaan pencitraan seperti CT scan juga dapat dilakukan dan terbukti dapat membantu evaluasi massa di kelenjar adrenal yang tidak menimbulkan gejala.

Diagnosis
Dapat dilakukan dengan mencari tanda-tanda klinis kelebihan steroid dalam tubuh, ditunjang dengan pemeriksaan skrining, tes supresi deksametason dan pengukuran kadar ACTH plasma. Dapat juga dilengkapi dengan pemeriksaan CT scan.
Diagnosis diferensial
Penyakit ini biasanya dibedakan menurut etiologinya.

Terapi
Terapi dilakukan berdasarkan etiologinya. Jika disebabkan oleh karena tumor adrenal, maka harus dilakukan tindakan operatif untuk pengangkatan tumor tersebut, hanya saja sisa kelenjar adrenal akan mengalami atrofi. Terapi substitusi kortikosteroid dibutuhkan selama berbulan-bulan dan diperlukan penghentian secara bertahap untuk mengembalikan fungsi adrenal ke normal.
Tumor hipofisis harus diobati dengan radiasi eksternal, implantasi atau hipofisektomi transfenoidal. Adrenalektomi total merupakan pengobatan yang sering dilakukan tetapi bisa terjadi renjatan postoperasi, sepsis dan penyembuhan yang lambat. Pada pasien yang menjalani adrenalektomi total diperlukan kortikosteroid permanent. Ada 3 jenis obat yang digunakan untuk menekan sekresi kortisol karsinoma diantaranya metyrapone, amino gluthemide dan p-DDD. Dapat digunakan untuk mengendalikan sindrom Cushing (dan untuk mengurangi resiko operasi) sebelum pengobatan radikal atau sebagai alternative jika tindakan bedah merupakan kontraindikasi.


Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul adalah sindrom Nelson, disebabkan oleh pembesaran kelenjar hipofisis. Biasanya dengan pegmentasi kulit yang hebat bertahun-tahun setelah adrenalektomi total. Pengobatan alternatifnya dengan merusak hipofisis melalui berbagai cara. Penyembuhan kurang pasti tetapi lebih aman dan terhindar dari resiko sindrom Nelson.

Prognosis
Sindrom Cushing yang tidak diobati akan fatal dalam beberapa tahun oleh karena gangguan kardiovaskular dan sepsis. Setelah pengobatan radikal kelihatan membaik, bergantung kepada apakah gangguan kerusakan kardiovaskular irreversible.
Pengobatan substitusi permanent memberikan resiko pada waktu pasien mengalami stress dan diperlukan perawatan khusus. Karsinoma adrenal atau yang lainnya cepat menjadi fatal oleh karena kakeksia dan/atau metastasis.

So, pastikan jamu yang kita minum tidak mengandung bahan-bahan berbahaya.
Semoga Bermanfaat,


Preference :
http://one.indoskripsi.com/node/5202
http://id.wikipedia.org/wiki/Sindrom_Cushing
http://emedicine.medscape.com/article/117365-overview


29 Desember 2009
Eko Indra P.,dr.
RSIA Kurnia
Cilegon, Banten, Indonesia





[+/-] Selengkapnya...

Minggu, 15 November 2009

Berkarya Dalam Keterbatasan

Satu waktu, saat sedang menjalankan aktivitas rutinku seperti biasa di IGD, seorang wanita paruh baya berjalan dengan tertatih-tatih dengan dituntun seorang pemuda yang tak lain tukang ojek. Setelah duduk tepat didepanku, wanita tersebut menyapa dengan sopannya dan menyebutkan keluhan penyakitnya. Ia menderita diare. Prihatin melihat kondisi si ibu, akupun meluangkan waktu sejenak untuk berbincang-bincang dengan wanita tersebut. Kalau gak salah ingat namanya adalah Ny.Warsini (maaf jika ternyata saya memang salah mengingat).

Dengan suka rela beliau bercerita tentang dirinya yang ternyata dalam sebuah perjalanan keliling Indonesia untuk memecahkan rekor MURI sebagai Tunanetra pertama yang berkeliling Indonesia. oops kejutan pertama buatku.
Hmm.. menarik juga pasien satu ini aku pikir.
Pertanyaan berikutnya tentu sama dengan yang teman-teman pikirkan.
"Sudah kemana saja Bu?"
dan dengan cukup jelas beliau berceloteh "Wah, saya sudah kemana-mana Dok, hampir semua kota sudah saya kunjungi. Yang belum ya Banten ini, yang terakhir" (o..ow kejutan kedua).

Lanjut Baca...

Setengah terbelalak dalam keterkejutanku, aku berpikir kok bisa ya, seorang tunanetra bisa bepergian begitu jauh tanpa ditemani seorangpun. Sementara aku pribadi, cukup malu jika dibandingkan ibu ini. Masih bisa kuhitung dengan jariku sendiri tempat-tempat yang pernah kukunjungi dinegeri indah ini. Maklum selain kurang niat karena kungkungan kesibukan aktivitasku pribadi, aku juga kurang modal (justifikasi yang sebenernya kurang bisa diterima).

Keasikan ngobrol buatku lupa tentang tujuan ibu ini datang ke Rumah sakit. Sampai akhirnya aku kembali meng-anamnesis (menanyakan tentang keluhan/gejala subjektif) pasien istimewaku ini. Sejawat perawat pun berlomba-lomba menolong ibu warsini. Mulai merelakan stok obat diare pribadi sampai mengambilkan air minum untuk ibu ini. Pokoknya pelayanan prima deh. Andaikan semua pasien kita perlakukan seperti ini. Setelah semua obat-obatan diminum, aku lanjutkan bincang-bincang dengan ibu warsini. Ia kembali bercerita dan mengejutkanku untuk ketiga kalinya, bahwa dirinya juga seorang dosen di Universitas Riau tepatnya dibidang pendidikan PPKN. Ia seorang doktor (S3) yang tengah mempersiapkan gelar profesornya dan InsyaAllah tahun ini beliau dapat meraihnya "sekaligus penghargaan dari Bpk.SBY, Dok", cetusnya melanjutkan cerita.
Tak puas dengan ceritanya aku pun sedikit mengusik masa lalu bu Warsini tentang keterbatasannya tidak dapat melihat. Kedua matanya tidak dapat melihat bukan dari sejak lahir, namun dikarenakan sebuah kecelakaan yang mengambil paksa kemampuannya untuk menikmari dunia visual. Khawatir membuatnya sedih aku alihkan pertanyaanku tentang dunia keluarga beliau. Ternyata beliau memiliki seorang suami luar biasa, seorang pejabat TNI aktif dengan pangkat Mayjen, masih bertugas di Mabes TNI-AD Jakarta dan mempunyai anak-anak berprestasi salah satunya "Anak saya yang bungsu sekarang kuliah di FKUI". Hmmm ternyata ibu ini betul-betul menarik perhatianku.

Obrolan seru kami harus terputus karena ibu warsini ternyata sudah memiliki janji bertemu dengan walikota dikotaku (Cilegon) setelah sebelumnya bertemu dengan orang-orang penting di Provinsi Banten termasuk gubernur Banten, ibu Atut Chosiah, "Ibu atut bilang saya ini orangnya lucu Dok" celetuknya lagi.

Sebelum pergi beliau menyerahkan sebuah buku lebih mirip seperti testimoni, dimana lembar demi lembarnya telah terisi berbagai tulisan pejabat-pejabat penting yang pernah ditemuinya lengkap dengan tanda tangan dan stempel instansi terkait. Buku itu nantinya akan dipakai sebagai bukti bahwa beliau memang benar telah mengunjungi tempat demi tempat dinegeri ini dan stempel merupakan validitas mutlak.
Beliau memintaku menuliskan sesuatu sebagai bukti bahwa yang bersangkutan memang telah mengunjungi RSUD tempatku bekerja lengkap dengan stempel nama dan stempel instansi katanya. Aku jadi tersanjung dibuatnya.
Terima kasih Bu Warsini, Terimakasih untuk pertemuan singkat yang sangat Inspiratifnya.
Jika dengan keterbatasan beliau bisa berkarya, kenapa terkadang kita yang memiliki kesempurnaan fisik masih ragu untuk melangkah maju???

Semoga Bermanfaat,
15 November 2009



Eko Indra P.,dr.
RSIA Kurnia
Cilegon, Banten, Indonesia





[+/-] Selengkapnya...

kesehatan dan inspirasi

adalah blog yang tepat untuk anda menemukan suatu inspirasi tentang dunia kesehatan, kedokteran, dan semua tentang inspirasi lain dari hidup dan untuk hidup.